Nama saya Johan. Jika sepuluh tahun yang lalu Anda lewat di sekitar kawasan Jalan Pandanaran, Semarang, pasti Anda pernah melihat saya—seorang pemuda bertubuh langsing, mengenakan celana robek berlumuran adukan semen, dan helm proyek yang terlalu besar. Ya, saya dulunya hanyalah seorang kuli bang